Langsung ke konten utama

The Yellow Envelope


               Sudah satu tahun berlalu sejak pertama kali Ruby menerima surat tanpa nama pengirim di loker sekolah. Hari ini ia menerimanya lagi.

                Surat pertama yang diterima Ruby adalah ketika ia kelas 1 SMA. Saat itu ia bingung dan takut. Tiba-tiba, di lokernya ada amplop surat berwarna kuning. Ia membawanya pulang ke rumah. Ternyata isinya ucapan selamat ulang tahun yang ditulis dengan kalimat-kalimat cantik seperti puisi. Tulisan tangannya rapi. Bersama surat itu, ada lukisan bunga mawar di bawah cahaya bulan dan tertulis kalimat ‘In a moonlight garden, when roses never fade’ di belakangnya. Apa maksudnya itu?

                Ruby tidak pernah mencari tahu siapa pengirim surat itu. Yang ia tahu hanyalah ia memiliki seorang pengagum rahasia. Wow betapa kerennya itu. Tapi sejujurnya, Ruby sungguh penasaran. Namun, dia tidak pernah memberitahukan hal itu kepada siapapun.

                Hari ini Ruby menerimanya lagi. Amplopnya masih sama, warna kuning. Ketika menyadari bahwa ada seseorang yang repot-repot mengirimkannya ke loker membuat Ruby berdebar. Cepat-cepat ia masukkan amplop itu ke dalam tas sekolah sebelum ada yang melihat.

                “Nggak ada eksul, By?” tanya Ale yang tiba-tiba datang, menepuk pundak Ruby pelan.

                “Oh, nggak, hari ini libur,” jawab Ruby sambil tersenyum.

                “Berarti langsung pulang dong?” tanyanya.

                “Iya,”

                “Nonton film Barbie yuk? Sama anak-anak yang lain. Katanya bagus.”

                Ah, Ruby malas sekali. Ia sangat ingin segera pulang dan membuka surat rahasia yang diterima ini.

                “Oh, sorry, Le. Aku nggak ikut dulu deh, soalnya aku juga sakit perut.” Tentu saja Ruby bohong.

                “Oh, yaudah kalau gitu. Mungkin next time. Kamu bisa pulang sendiri ‘kan tapi?” ujar Ale sambil memasang tampang khawatir. Ruby langsung merasa bersalah.

                “Bisa kok, aman. Have fun ya kalian,” sahut Ruby kemudian.

*

                Sesampainya di rumah,  Ruby segera membuka amplop kuning itu. Aku menatapnya lama. Ternyata berdebar juga rasanya. Apakah kali ini si pengirim akan memberitahu identitasnya? Hanya ada satu cara untuk tahu.

                Di dalam ada satu lembar kertas yang isinya beberapa kalimat pendek.

                Surat itu diawali dengan, “Dear Ruby,” Sungguh, tulisan tangan siapapun ini rapi sekali. Apa ada anak cowok yang tulisannya secantik ini? Atau jangan-jangan pengagum rahasia Ruby adalah seorang perempuan? Astaga, tidak mungkin.

                Kalimat selanjutnya berisi kalimat selamat ulang tahun, harapan untuk selalu hidup dengan sehat dan bahagia, serta ucapan terima kasih karena sudah lahir ke bumi dan menjadi inspirasi baginya. Dipikir-pikir isinya sangat klise, tapi dia senang sekali. Tidak pernah seumur hidupnya memiliki pengagum rahasia seperti itu.

                Dan ya, lagi-lagi, sang pengirim tidak memberitahu identitasnya. Tapi ternyata ada sebuah gelang berwarna hitam di dalam amplop itu. Tidak ada lukisan lagi. Tahun ini hanya surat dan gelang hitam. Haruskan Ruby mengenakannya? Apakah pengirimnya akan menunjukkan dirinya jika Ruby dengan terang-terangan memberi lampu hijau? Tapi apakah gelang ini aman? Maksudnya, apakah tidak ada sihir atau semacamnya? Entahlah, Ruby tetap akan memakainya. Gelang itu bagus juga, ada inisial namanya di tengah.

*

                Waktu berlalu dengan begitu cepat. Sekarang adalah saatnya pertunjukkan pentas seni sekolah. Setiap akhir semester ganjil, sekolah Ruby selalu mengadakan pentas seni untuk merayakan satu tahun yang telah berlalu. Biasanya, setiap kelas diminta perwakilan untuk menampilkan sesuatu, apapun itu. Kelas Ruby sepertinya akan memberikan pertunjukkan dance. Ada Ale, Michelle, dan Olivia yang merupakan anak ekskul dance yang berbakat. Murid lain tidak perlu pusing lagi.

                Ruby sedang makan siang di kantin sekolah bersama Luna ketika beberapa orang secara bersamaan pergi meninggalkan kantin.

                “Istirahat makan siangnya udah selesai, kah?” tanya Ruby bingung.

                “Belum deh, kayaknya mereka mau lihat persiapan anak IPS 2 yang mau tampil,” jawab Luna cuek. Dia masih asyik menikmati bakso kuahnya sambil menggulir layar ponsel.

                “Kamu nggak tertarik, Lun?” tanya Ruby lagi.

                Luna menatapnya sekilas sebelum kembali menatap layar ponselnya. “Tertarik, tapi males kalau harus desak-desakan sama orang-orang. Mending kita nonton dari jauh aja. Cuma anak kelas IPS 2 ini.”

                Ruby mengangguk. Betul juga. Lebih baik menyantap makan siang dengan santai.

Sayup-sayup terdengar alunan musik yang lumayan meriah, sehingga tanpa melihat keadaannya pun, Ruby tahu bahwa seluruh sekolah sedang bersenang-senang dengan penampilan anak kelas IPS 2.

                Mereka membawakan lagu pop dari artis terkenal tanah air, sehingga wajar saja jika semua orang di sekolah mengetahuinya.

                Setelah selesai dengan makan siang mereka, Ruby dan Luna bergabung dengan kerumunan. Tentu saja mereka hanya menonton dari jauh. Sekarang, anak kelas IPS 2 itu akan membawakan lagu baru. Mereka bilang lagu ini adalah lagu buatan mereka sendiri. Keren juga ya mereka.

                Ada Liam yang memegang bas dan vokal, lalu Jefa sang gitaris dan vokal, Erion yang memegang keyboard, dan Ridam yang bertanggung jawab terhadap bagian drum mereka. Ruby baru sadar kalau anak IPS 2 memang anak ekskul band.

                Alunan keyboard lembut melewati telinga Ruby dengan sangat sopan. Baru intro saja Ruby sudah menyukainya. Sepertinya instrumennya sangat cantik.

                Suara Liam kemudian terdengar menyanyikan lirik lagu baru tersebut.

                With trembling hands, I sent it away

                Two times a charm, hoping to not betray

                Every day you wonder, who this mystery could be

                The clues within the yellow envelope, like a key

 

                Ah, apa mereka sudah mengatakan judul lagu ini? Ruby tidak yakin. Ia menatap Luna di sebelahnya yang telah mengangkat ponselnya untuk merekam. Sebagian besar orang di sekitarnya juga melakukan hal yang sama. Ruby pun segera mengeluarkan ponselnya karena tidak mau ketinggalan.

                Behind the yellow envelope in the locker,

                There’s a heart, beating like a firecracker

 

                Tunggu. Apa itu tadi? Ruby mematung. Apa ia tidak salah dengar?

 

                A secret rendezvous, a midnight serenade

                In a moonlight garden, where the roses never fade

 

                Jantung Ruby berdetak dengan sangat kencang hingga rasanya sakit. Tentu saja ia ingat kalimat itu. Kalimat di belakang lukisan mawar si pengirim surat.

 

                Behind the black bracelet in your hand,

                There’s a smile that never end

 

                Ruby menatap tangan kirinya dengan terkejut. Dia mengenakan gelang pemberian si pengirim surat sejak hari pertama menerimanya. Kemudian ia menatap Liam yang sedang membawakan lagu itu, meneruskannya sampai selesai.

                Cowok itu menyanyi sambil menatap semua penonton, seakan matanya mencari seseorang. Ketika mata itu bertemu dengan mata Ruby, ia segera mengalihkan pandangan ke lantai panggung dan mendadak tersenyum. Ruby masih menatapnya dengan tidak percaya. Jantungnya semakin berdentang hebat. Sial. Kenapa dia bisa sekeren itu?

                Pertanyaannya adalah, siapa yang menciptakan lagu itu? Apakah ini hanya kebetulan? Apa maksud senyuman Liam tadi?


***

written by dipricey or Diva Dipxie // Diva Alayna Suwito 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

a girl looking at art

7 Mei 2023 (Minggu) Halooo :D hari ini aku pergi ke pameran seni di Yogyakarta. Aku pergi sama temenku. Kita berangkat jam 2. Hari ini lumayan mendung, tapi kita nggak kehujanan sih cuma gerimis aja. Kita pergi ke 3 tempat hehehe. Capek banget tapi seneng. Jadi, yang pertama kami ke Bentara Budaya, yang deket Gramedia sama Togamas Kotabaru. Di sana ada pameran yang judulnya “Bumi Sriwedari”. Cantik-cantik lukisannya. Nama senimannya Bapak Herjaka Hs. Beliau punya novel juga. Karyanya banyak sekali. Terus, dari semua yang aku lihat, ada satu yang aku ingat banget. Judulnya “Semoga semua makhluk berbahagia” dari judulnya aja udah cantik, lukisannya juga cantik. Jadi ada 2 makhluk (kalau di gambarnya itu gambar wayang (?) maaf aku nggak terlalu ngerti tentang seni) terus di latar belakangnya banyak bunga warna-warni. Seperti dunia itu cerah sekali rasanya hehehe :D Oh iya, di sana ada postcard sama bookmark juga. Aku sempet tanya sama kakaknya, harganya 30 ribu, dapat 3 postcard sama 2 bo...

The Yellow Envelope (English)

 It's been a year since Ruby first received an anonymous letter in the school locker. Today she received it again. The first letter Ruby received was when she was in 1st grade of high school. At that time she was confused and afraid. Suddenly, in her locker there is a yellow envelope. She brought it home. It turned out that the contents of the birthday greetings were written in beautiful sentences like poetry. The handwriting is neat. Along with the letter, there was a painting of a rose in the moonlight and had the words 'In a moonlight garden, when roses never fade' written on the back. What does it mean? Ruby never found out who sent the letter. All she knows is that she has a secret admirer. Maybe. But if it's true, how cool is that. But to be honest, Ruby was really curious. However, she never told anyone about it. Today Ruby received it again. The envelope is still the same, yellow. Realizing that someone had bothered to deliver it to the locker made Ruby flutter....

HAPPY NEW YEAR

 Selamat tahun baru 2023! (telat tapi yaudah) Ada yang bilang tahun 2022 berjalan cepet banget sampe nggak kerasa. Ada lagi yang bilang kerasa banget saking beratnya. bagiku sendiri biasa aja sih, berjalan dengan baik dan menyenangkan walaupun banyak pressure tapi karena udah sampai sini jadi udah lewat, nggak usah dipikirin. Aku mulai berani nulis di sini tahun 2022, jadi kupikir aku mulai nggak peduli sama pemikiran orang lain di tahun ini dan itu baik. Kadang masih suka overthinking sih tapi nggak lama. Lagian kan nggak ada juga yang peduliin banget eksistensi setiap manusia. Sebenernya pengen juga nulis di medium atau media lain tapi aku masih belum berani :( kapan ya aku berani? Nanti deh, jangan semuanya harus selesai sekarang. Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, tahun 2022 menyenangkan. Aku banyak belajar. Aku belajar buat jadi sedikit lebih berani. Orang-orang mungkin nggak lihat, tapi aku rasain itu. Aku juga belajar untuk nggak perlu memikirkan sesuatu secara berlebih...