Langsung ke konten utama

If you look close enough, it ain’t that far

 

Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku main ke gunung. Terakhir itu ke Sindoro, sama temen-temen. Tapi karena ada pandemi dan aku masuk kuliah, jadi nggak ada waktu yang tepat dan nggak ada teman untuk ke gunung lagi. Sedih banget jujur. Jadi salah satu wishlist ku tahun ini adalah pengen ke gunung lagi. Aku nggak peduli mau ke gunung mana yang penting aku ke gunung lagi.

Lalu akhirnya rencana yang telah lama jadi wacana itu terealisasikan. Aku ke Prau lagi, kali ini sama Widya dan Tya. Kita bertiga aja. Memang nekat sih, tapi yaudah lah.

Aku berangkatnya udah pagi, jam 7.00 udah otw. Tapi tetep aja berangkat benerannya tengah hari, wkwk. (packingnya yang lama). Widya juga bangun kesiangan. Dia tidur setengah 2 katanya. Jadi ini pesan moral nomer 1: kalau besok mau pergi jangan tidur malam malam, (if can't sleep, maybe you can try to listen to 'asmr typing keyboard' on yt, it works for me)

Oke singkat cerita kita sampe di basecamp hampir jam 15.00 kalau nggak salah. Terus istirahat sebentar, registrasi, lalu naiknya jam 16.00.

Belum apa-apa udah capek cuy, yah namanya juga udah 5 tahun nggak muncak. Jadi kita istirahat terus. Rasanya napasnya kayak mau putus hahah soalnya bawa carir 60l (tapi gantian sih). Terus tiba-tiba muncul kabut. Jadilah hujan sebentar, lalu kita pakai ponco biar nggak masuk angin. Setelah lanjut jalan lagi, ternyata nggak sampe sampe.

Menuju pos 3 atau sunrise camp (lupa) kita ketemu temen baru, namanya Julia dan Rifki. Mereka dari Sumatra tapi lagi kuliah di Jakarta. Mereka berdua aja, jadi kita bareng aja berlima. Btw mereka keren banget backpackeran gitu. Kalau aku sih udah nangis minta pulang di hari pertama (wkwkw).

Kita sampe di sunrise camp jam 21.10. Astaghfirullah bisa dibayangkan betapa lamanya kami berjalan. Ah tapi gapapa, namanya juga hidup kan. Kadang jalan pelan pelan tuh gapapa juga asal tahu tujuan dan nyampe dengan selamat. Jadi pesan moral nomer 2 yaitu: jangan keseringan liat keatas karena keliatannya pasti jauh banget, mending fokus sama langkah yang ada di depan aja /hahaha/ (sejujurnya it’s also inspired by Mark Lee’s instagram caption: “If you look close enough, it ain’t that far”)

Setelah sampai, kita bikin tenda. Julia sama Rifki cariin spot yang enak dan ga terlalu banyak angin. Kita ngikut aja. Terus kita pasang tenda hadap-hadapan. Aku pikir aku udah lupa caranya pasang tenda, tapi ternyata bisa juga, enggak parah-parah banget lah. Tapi karena jujur udah capek banget dan ngantuk dan kedinginan, jadi ya gitu.

Setelah jadi, kita masuk tenda dan bikin mi. Karena capek dan dingin ya, harusnya emang harus langsung makan. Biar nggak masuk angin kan. Selanjutnya ya udah, kita tidur aja.

Paginya kita lihat sunrise. Foto-foto sebentar. Terus masak deh. Pesan moral nomer 3: jangan bawa terlalu banyak bahan makanan dan cemilan karena sumpah, selain berat, juga nggak akan kemakan. Ngabis-ngabisin tempat di tas, dan juga mubazir, huh. Secukupnya aja, okay?

Setelah makan yang sama sekali nggak habis itu, kami foto-foto lagi. Kali ini udah terang dan sangat cerah (ayo kita bersyukur). Seneng deh bisa menikmati pemandangan itu lagi. Aku puas sekali karena aku punya banyak foto-foto dan video bagus (thanks to Widya). Tapi Tya banyak keliatan badmood, mungkin karena masuk angin dan lagi datang bulan juga. Ini masuk angin kutebak pasti karena males makan. PLIS kalo lagi ngecamp atau ke gunung jangan males makan. Aku tau perut rasanya nggak enak, tapi itu karena nggak ada isinya ga sih? Soalnya aku pernah, ga mau makan pas camp di waduk sermo, dan di Prau juga pas 2018. Waktu itu perutku ga enak mau muntah. Tapi akhirnya waktu aku paksa makan, perutku jadi mendingan. (anggap aja ini pesan moral nomer 4)

Oke kembali ke masa kini. Jadi setelah foto-foto itu, kita balik ke tenda kan mau beres-beres sebentar. Tapi Julia sama Rifki ngajak foto bareng. Oke kita bilang. Tapi mereka ngajak ke puncak, padahal kita udah mau pulang aja. Terus aku bilang ke temen-temenku kalau sepertinya nggak ada salahnya kita coba ke puncak, siapa tau cepet. Taunya ga nemu puncaknya wkwkw alias kita cuma jalan jalan doang. Jadi kita fotonya di sunrise camp aja udah.

Pesan moral nomer 3: set your boundaries. It’s OK to say NO. Jadi kalau gamau ya bilang aja gamau.

Selanjutnya kita turun, jangan lupa ya sampahnya di bawa turun, kan udah bawa plastik dan udah dikasih trashbag pas registrasi. Widya yang bawa tas carir duluan, terus sebelum nyampe pos 2 gantian sama aku. Aku bawa sampe basecamp. MasyaAllah beratnya. Nggak gantian lagi sama Tya, soalnya dia sakit kan.

Di jalan turun, ada mas-mas ga kenal minta tolong kami untuk semangatin temennya. Aku bingung, terus kutanya lagi. Dijelasin detailnya, terus katanya mau bikin video. Aku jawab aja 'oke'. Ternyata Widya sama Tya ga bilang apa-apa, jadi aku yang semangatin temen masnya tadi wkwkw malu banget anjr. Tapi gapapa karena seru interaksi sama stranger.

Terus di pos 2 kita foto sama pendaki lain yang mau turun juga. Sama Julia dan Rifki juga. Jadi bersebelas gitu. Seru banget rasanya kayak naik bertiga doang tapi turun sekampung alias jadi banyak temen. Yah singkat cerita aku happy. (Walaupun capek banget juga sih ga boong)

Sampai basecamp kita istirahat sebentar. Aku mau nangis membayangkan kita masih motoran 3 jam. Tapi kita harus menjalaninya. Aku bonceng dulu bawa carir lagi, udah dikurangi sih bawaannya, tenda sama matras dikasih di depan motor. Tapi tetep aja berat euy wkwkwk. Sakit semua badanku sampe 2 hari. Terus sebelum borobudur itu aku gantian motoran di depan, terus Widya yang bonceng sambil gendong carir.

Sebelum pulang kita mampir nasi padang dulu. Lalu ceritanya selesai. Terima kasih ya untuk yang bersedia membaca ceritaku yang tidak terstruktur ini. Aku udah kepengen ke gunung lagi. Aku suka jalan-jalan, menulis, dan dokumentasi. Pengen jadi travelblogger deh. Gimana caranya?

Oh ya, btw jangan lupa mampir ke youtube aku heheheh: Video di Prau

Thank you so much for being here <3





Komentar

Postingan populer dari blog ini

a girl looking at art

7 Mei 2023 (Minggu) Halooo :D hari ini aku pergi ke pameran seni di Yogyakarta. Aku pergi sama temenku. Kita berangkat jam 2. Hari ini lumayan mendung, tapi kita nggak kehujanan sih cuma gerimis aja. Kita pergi ke 3 tempat hehehe. Capek banget tapi seneng. Jadi, yang pertama kami ke Bentara Budaya, yang deket Gramedia sama Togamas Kotabaru. Di sana ada pameran yang judulnya “Bumi Sriwedari”. Cantik-cantik lukisannya. Nama senimannya Bapak Herjaka Hs. Beliau punya novel juga. Karyanya banyak sekali. Terus, dari semua yang aku lihat, ada satu yang aku ingat banget. Judulnya “Semoga semua makhluk berbahagia” dari judulnya aja udah cantik, lukisannya juga cantik. Jadi ada 2 makhluk (kalau di gambarnya itu gambar wayang (?) maaf aku nggak terlalu ngerti tentang seni) terus di latar belakangnya banyak bunga warna-warni. Seperti dunia itu cerah sekali rasanya hehehe :D Oh iya, di sana ada postcard sama bookmark juga. Aku sempet tanya sama kakaknya, harganya 30 ribu, dapat 3 postcard sama 2 bo...

The Yellow Envelope (English)

 It's been a year since Ruby first received an anonymous letter in the school locker. Today she received it again. The first letter Ruby received was when she was in 1st grade of high school. At that time she was confused and afraid. Suddenly, in her locker there is a yellow envelope. She brought it home. It turned out that the contents of the birthday greetings were written in beautiful sentences like poetry. The handwriting is neat. Along with the letter, there was a painting of a rose in the moonlight and had the words 'In a moonlight garden, when roses never fade' written on the back. What does it mean? Ruby never found out who sent the letter. All she knows is that she has a secret admirer. Maybe. But if it's true, how cool is that. But to be honest, Ruby was really curious. However, she never told anyone about it. Today Ruby received it again. The envelope is still the same, yellow. Realizing that someone had bothered to deliver it to the locker made Ruby flutter....

HAPPY NEW YEAR

 Selamat tahun baru 2023! (telat tapi yaudah) Ada yang bilang tahun 2022 berjalan cepet banget sampe nggak kerasa. Ada lagi yang bilang kerasa banget saking beratnya. bagiku sendiri biasa aja sih, berjalan dengan baik dan menyenangkan walaupun banyak pressure tapi karena udah sampai sini jadi udah lewat, nggak usah dipikirin. Aku mulai berani nulis di sini tahun 2022, jadi kupikir aku mulai nggak peduli sama pemikiran orang lain di tahun ini dan itu baik. Kadang masih suka overthinking sih tapi nggak lama. Lagian kan nggak ada juga yang peduliin banget eksistensi setiap manusia. Sebenernya pengen juga nulis di medium atau media lain tapi aku masih belum berani :( kapan ya aku berani? Nanti deh, jangan semuanya harus selesai sekarang. Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, tahun 2022 menyenangkan. Aku banyak belajar. Aku belajar buat jadi sedikit lebih berani. Orang-orang mungkin nggak lihat, tapi aku rasain itu. Aku juga belajar untuk nggak perlu memikirkan sesuatu secara berlebih...