Aku
baru saja mendarat di New York City 3 hari yang lalu. Teman baruku baru 2,
yaitu sopir taksi online yang kupesan dari bandara menuju apartment, dan satu
cowok baik dari London yang aku kenal di pesawat. Aku berniat menetap di kota
ini selama dua minggu karena akhirnya aku punya uang dan kesempatan. Diriku 2
tahun yang lalu tidak akan pernah menyangka kalau aku bisa melakukan ini.
Hari
ini aku bangun pukul 8, dan sekarang sudah pukul 10.15, yang artinya aku sudah
harus keluar dari apartemen untuk setidaknya memiliki kehidupan. Aku harus
menulis sesuatu, aku harus merekam sesuatu dan aku harus mengedit sesuatu. Jadi
hari ini kuputuskan untuk pergi ke café. Tapi mungkin, aku juga akan ke New York Public Library.
Tidak
banyak yang harus kulakukan hari ini. Mungkin hanya menyelesaikan sedikit
pekerjaan. Selain itu, aku akan melanjutkan buku yang sedang kubaca.
*
Udara
New York hari ini menyenangkan. Aku selalu suka autumn, dan rasanya senang
mengenakan baju hangat walaupun belum musim dingin. Daun yang berubah warna
menjadi kuning dan coklat itu cantik.
Setelah
berhasil mengisi perut dan menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sebenarnya
tidak sepenuhnya selesai itu, aku dengan bersemangat menuju NYPL. Tidak terlalu
sulit akses masuk perpustakaan ini. Karena memang ramai akan turis, jadi
prosesnya cukup mudah.
Rasanya
nyaman dan tenang. Banyak anak sekolah dan mahasiswa yang membaca dan
mengerjakan tugas di sini. Seorang pria tua juga terlihat membaca buku di sudut
ruangan. Banyak buku bagus yang tertangkap mata penasaranku. Tetapi kutahan
diri untuk tidak meminjam karena aku masih punya banyak buku yang harus kubaca.
Kuputuskan
untuk duduk di meja yang menghadap jendela. Aku seperti tidak bisa berhenti
tersenyum. Aku merasa benar-benar hidup di dalam mimpiku dan ini menyenangkan.
Jadi, aku membaca buku sambil sesekali melamum menatap ke luar jendela pada
pohon yang daun coklatnya tertiup angin.
Aku lupa waktu
sampai ternyata sekitarku sudah sepi dan waktu telah menunjukkan pukul 5 sore.
Jadi kuputuskan untuk pulang sebelum jalanan semakin dingin. Aku akan kembali
lagi besok, setelah menyelesaikan beberapa pekerjaanku.
*
Aku
menyelesaikan pekerjaanku lebih cepat hari ini karena berniat untuk lebih
banyak menghabiskan waktu di perpustakaan. Setelah memesan es kopi untuk
menemani perjalananku, aku pun keluar dari café .
“Eh? Hi Leana?”
sapa seorang laki-laki yang akan masuk café, namun terhenti karena berinteraksi
denganku.
Aku menatapnya
beberapa detik. Bingung. Apakah kita pernah bertemu? Apakah kita saling
mengenal. Tidak ada ingatan apa-apa di kepalaku.
Menyadari
kebingunganku, laki-laki itu melanjutkan berkata, “Ini aku, Cardan. Kalau kamu
ingat.” Gelagatnya semakin canggung. Mungkin khawatir salah menyapa orang, atau
khawatir aku tidak mengenalinya.
“Oh? Cardan?
Summer School? Australia?” ujarku akhirnya. Dia tampak lega, tersenyum.
“Sudah lama
sekali ya? Apa yang sedang kamu lakukan di sini?” tanyanya.
“Aku hanya
sedang liburan sambil bekerja. Bagaimana denganmu?”
“Aku ada
festival musik. Hari ini kamu ada pekerjaan?” tanyanya lagi, seperti
terburu-buru.
Aku ingin
menanyakan tentang festival musiknya, tapi malah menjawab, “Tidak, aku hanya
akan ke perpustakaan.”
“Oh, boleh aku
ikut? Aku akan membeli kopi sebentar.”
“Boleh,” ujarku yang
kemudian menunggu di depan café sambil menyesap kopiku sendiri.
Cardan adalah salah satu temanku di Summer School Australia. Summer School
itu aku ikuti ketika aku kelas 11 SMA. Itu adalah pengalaman yang sangat
menyenangkan, dan terutama, program itu adalah program dari sekolah yang
membiayai seluruh prosesnya. Jadi aku tidak perlu memikirkan transport dan
biaya penginapan.
Pengalaman itu
membawaku bertemu Cardan. Dia anak yang baik dan menyenangkan. Selalu terlihat
senang membantu semua orang. Dia pintar dan dia seorang atlet Taekwondo. Dia
baik padaku, jadi aku menyukainya. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama karena
pada akhirnya aku mengetahui bahwa dia dekat dengan teman satu kelas kami. Aku
jadi membencinya.
*
Di Perpustakaan,
kami banyak mengobrol. Aku jadi tidak peduli dengan buku yang sedang kubaca.
Selalu menyenangkan mengobrol dengan Cardan.
Cardan bilang,
dia sudah 2 tahun debut bersama grupnya. Akan tetapi satu tahun terakhir, dia
memutuskan untuk memulai karir solonya. Dia senang karena bisa memproduksi
musiknya sendiri. Aku tidak terlalu tahu tentang Korean Idol, dan aku tidak
berhubungan lagi dengan teman-temanku di Summer School, jadi aku tidak tahu.
“Aku harus
kembali, mereka sudah mencariku,” sahut Cardan sambil mengecek ponselnya.
Aku mengangguk.
Setelah bertukar nomor telepon, Cardan segera pergi. Aku tidak ingat bagaimana
aku bisa membencinya beberapa tahun yang lalu. Aku hanya ingat dia selalu
berhasil membuatku senang.
Di perjalanan
pulang ke apartment, aku memikirkan tentang apakah aku seharusnya menonton festival
musik Cardan? Tapi dia tidak memintaku datang. Aku juga tidak tahu apa-apa
tentang musiknya. Apakah dia ingin aku datang atau tidak? Tapi aku sungguh
penasaran. Acaranya 2 hari lagi, di hari Sabtu. Sudah pasti tiketnya habis
terjual. Jadi, apa yang harus kulakukan?
*
Aku berhasil
mendapat tiketnya, dari salah seorang teman barista café yang tidak bisa hadir.
Aku akan menonton Cardan hari Sabtu ini.
Sisa waktu
kuhabiskan untuk mencari tahu lagu Cardan dan berusaha menghapalkannya. Tidak
semua berhasil aku tanam di kepala, tetapi setidaknya aku tidak terlalu bodoh.
*
Aku berhasil
menikmati waktu yang aku habiskan di festival musik itu. Cardan sangat keren.
Dia punya banyak penggemar. Caranya membawakan lagu dan menggunakan gitarnya
sangat tidak manusiawi. Dia terlalu sempurna. Atau hanya aku yang berpikir
demikian?
Setelah Cardan menyelesaikan
penampilannya, aku memilih untuk pulang. Masih ada beberapa penyanyi lain yang
tampil, tetapi aku sangat pusing untuk tetap berada di sana. Aku tidak terlalu
terbiasa mengikuti acara musik seperti itu. Aku cukup senang karena dapat
berkesempatan menikmati penampilan teman lamaku itu.
Sesampainya di
apartemen, aku segera membersihkan diri. Yang selanjutnya kulakukan adalah mengirim
pesan kepada Cardan.
“Aku datang ke
festival musik yang ada kamunya. Keren sekali!”
Tapi dia baru
membalas sekitar 2 jam kemudian.
“Boleh
kutelepon?”
Belum sempat
menjawab, ponselku berdering yang menandakan adanya telepon masuk. Segera
kuangkat tanpa banyak berpikir.
“Aku tahu kamu
akan datang,” katanya tiba-tiba. Tanpa salam, tanpa menanyakan apa-apa.
“Kenapa bisa
tahu?” tanyaku
“Aku tidak tahu
bagaimana, tapi aku tahu kamu pasti datang.”
Aku diam
sejenak. “Apa aku adalah buku yang terbuka?”
“Mungkin,”
Jeda.
“Besok kamu
sibuk?” tanya Cardan
“Besok hari
Minggu,” jawabku.
“Kalau begitu,
besok libur?”
“Iya, kenapa?
Kamu mau ngajak aku kencan?”
“Boleh,”
jawabnya.
Aku tersenyum.
Agak sedikit kesulitan bernapas.
“Kalau begitu,
besok ketemu di café kemarin? Jam 10 pagi?” ujar Cardan. Dari background
suaranya, dia pasti masih di festival musik.
“Okay,”
“See you
tomorrow.”
Setelah saling
mengucapkan “Good night” dan “Selamat beristirahat”, Cardan mengakhiri telepon.
Sebelum tidur,
aku sudah memikirkan outfit yang harus kukenakan untuk besok pagi.
*
Aku terlambat
datang. Sekarang pukul 10.10, tetapi Cardan juga belum datang. Mungkin dia
bangun kesiangan juga. Mungkin semalam dia tidur terlalu larut.
Cardan baru
datang pukul 10.30, dan sudah meminta maaf lima kali. Selanjutnya, dia
mengajakku ke toko buku. Kami menghabiskan waktu berputar ke beberapa section
rak buku dan mendiskusikan isinya.
Dia memintaku
memilih buku yang kumau dan membayarnya sebagai permintaan maaf karena sudah
terlambat. Aku tidak peduli. Yang penting aku senang bisa mendapat banyak buku
gratis.
Sepulang dari
toko buku, kami mampir ke kedai es krim yang terpisah beberapa blok dari toko
buku. Kali ini aku yang traktir dan Cardan setuju.
“Setelah selesai
acara festival, apa yang selanjutnya kamu lakukan?” tanyaku ketika kami sedang
menikmati es krim kami masing-masing.
“Hm. Kembali ke
Korea. Kembali mengikuti jadwal.”
“Kamu sibuk
sekali ya?”
“Iya. Sibuk.
Tapi aku lebih suka sibuk daripada tidak sibuk sama sekali.”
“Aku juga. Oh,
by the way, gimana sama Lucie?”
“Lucie teman
kita di Summer School? Hm, kita masih dekat,”
Jeda. Cardan
menyendokkan es krim ke mulutnya. Aku diam, menunggu.
“Oh, jadi kalian
masih—”
“Kami masih
berteman baik. Dari dulu selalu begitu,” jawabnya buru-buru, lalu tersenyum
sambil menghabiskan es krimnya, tidak menatapku.
“So, you’re
dating her since years ago, and till now?”
“Dating? We’re
not dating. She’s my bestfriend.”
A silence.
“Jadi, kamu
beneran berpikir kalau kita pacaran?” tanya Cardan, tersenyum.
Aku tidak
menjawab. Memilih fokus menghabiskan es krimku yang mulai mencair.
“Dari dulu kamu
menyenangkan, tapi terlalu sulit,” ujar Cardan.
“Apa?” tanyaku,
bingung.
“Kenapa nggak
kita aja?” tanya Cardan lagi.
Aku mengerutkan
kening, semakin bingung. “Apanya?”
“Yang pacaran?”
sahut Cardan.
Aku tidak tahu
harus bereaksi seperti apa, jadi aku hanya menatapnya. Membeku.
Tapi dia
langsung menambahkan, “Lupakan. Itu tadi terlalu cepat. Ayo kita cari makan
siang aja. Oh, setelah ini apa kamu punya rencana ke Korea? Aku bisa ajak kamu ke
tempat makan yang enak dan tempat liburan keren yang menyenangkan.”
Dia masih terus
bicara sambil menggandeng tanganku yang membawa paperbag berisi buku. Kami
keluar dari kedai es krim, dan aku menatap tangannya yang berada di tanganku
sambil tersenyum.
***
inspired by a pause game on instagram lol
Komentar
Posting Komentar