Aku pernah ikut ekskul sekaligus organisasi pecinta alam waktu aku SMA.
Aku dulu berpikir kalau aku ikut ekskul itu tuh keputusan yang salah. Karena sungguhan capek. Aku jadi sering disindir-sindir senior. Disuruh-suruh. Terus aku jadi benci. Nggak suka. Pengen cepet-cepet keluar.
Terus ada seseorang yang bilang ke aku, katanya, “Kenapa nggak suka? Bukannya organisasi itu yang membentuk kamu jadi seperti sekarang?” And I couldn’t agree more.
Sudut pandang aku berubah. Jadi aku bisa lebih bersyukur. Aku bersyukur karena pernah ikut diksar dan tidak menyerah. Aku tidak akan menyerah dalam hal apapun. Karena nggak ada yang lebih berat dari diksar, setidaknya bagiku untuk saat ini.
Aku masih ingat kalimat Babe 5 tahun yang lalu waktu itu pagi-pagi, hari kedua Pendidikan dasar. Babe itu Pembina organisasi (ekskul) pecinta alam di sekolahku.
Aku dan teman-temanku baru saja melewati malam hari tidur di bivak darurat yang terbuka dan super dingin. Itu pengalaman pertamaku tidur di tempat yang sangat menyedihkan dan tentu saja masuk angin.
Tapi pagi itu kami dikumpulkan, logistik kami di segel. Kami tidak diizinkan untuk makan-minum dari bekal yang kami bawa. Semuanya disegel dan kami hanya dikasih air minum setengah botol Aqua 1.5 liter. Harus cukup untuk satu kelompok (4 orang) sampai hari terakhir.
Kami juga dikasih mi instan setengah bungkus, sama beberapa bumbu, dan lilin, parafin, korek api, dan beberapa kebutuhan lain dengan serba terbatas. Tapi semua logistic segel itu masih tetap harus dibawa dalam tas. Jadi itu berat banget. Tas carir ku 60 liter. Dan aku waktu itu sangat kecil seperti kurang gizi. Aku masih 15 tahun waktu itu.
Aku takut. Kupikir diksar tuh seneng-seneng aja. Ternyata kita belajar banyak.
Oh iya aku sampe lupa, kalimat Babe waktu itu bilang kalau kita sedang “Belajar menghadapi situasi yang tidak nyaman.”
Aku masih ingat kalimat itu sampai sekarang. Aku hampir nangis waktu itu karena aku takut banget. Aku takut banget tapi aku tau itu penting. Dan ternyata aku berhasil melewatinya. Dan ternyata aku lebih kuat daripada yang aku pikir.
Dulu, aku pikir, yang dimaksud Babe dengan “situasi yang tidak nyaman” itu situasi di hutan. Ketika kita tersesat atau dalam keadaan darurat. Jadi kita setidaknya diharapkan bisa bertahan di situasi sulit seperti itu. Tapi ternyata situasi yang tidak nyaman bisa terjadi di mana saja. Dan tentu saja di hidup itu sendiri. Aku sering menghadapi situasi yang tidak nyaman, situasi sulit, dan sering pengen menyerah. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, aku pernah ikut diksar, jadi ini bukan apa-apa.
Aku nulis ini karena aku lagi capek sama organisasi yang aku ikuti sekarang. Aku di kampus ikut hima, aku pikir nggak akan terlalu berat, karena kan ini bukan BEM. Tapi ternyata stress juga. Aku pusing banget, sering pulang malem. Mana aku udah semester 6. Dan aku PP dari rumah ke kampus (2 jam bolak-balik) jadi aku sungguhan capek. Harusnya 2 periode tuh udah boleh demis kalau di AD/ART tapi ya nggak tau ya, dari jaman dulu udah begini. Kita nyampe sem 7 baru ‘selesai’
Tapi aku belum mau menyerah. Gimana ya bilangnya. Aku capek tapi aku tau aku butuh berproses. Aku tau kalo ini bermanfaat. Jadi aku pengen ‘metik’ hasilnya. Seperti yang aku alami di organisasi pecinta alam sebelumnya. Ada harga yang harus dibayar, walaupun aku nggak tau apa yang menunggu aku di depan sana, tapi aku tau kalau ini nggak sia-sia. Aku capek, pusing, stress saat ini akan dikasih reward sama Allah di masa depan, entah dalam bentuk apapun itu. Aku masih ingin percaya itu.
Untuk Mama, terima kasih karena sudah pernah mengizinkan diva kelas 10 untuk ikut pecinta alam


Komentar
Posting Komentar