Langsung ke konten utama

Untitled

 

Hari ini Selasa. Vera ke sekolah seperti biasanya. Duduk di bangku paling belakang dan sendirian sudah menjadi kebiasaannya pula. Sebenarnya, ada beberapa teman di kelasnya yang ingin berteman dengan Vera, tapi gadis itu selalu bersikap tidak baik dan membuat teman-temannya takut.

Perlu diketahui bahwa kehidupan Vera tidaklah mudah. Dia dicap sebagai anak pembawa sial oleh lingkungan sekitarnya. Ibunya meninggal sesaat setelah melahirkannya. Ayahnya meninggal karena serangan jantung. Seluruh saudaranya yang tersisa dibantai di rumah ketika Vera berkemah di sekolahnya. Vera tidak punya siapa-siapa sekarang. Dan memutuskan untuk tidak mau punya teman karena takut temannya akan mengalami hal serupa seperti orang-orang terdekatnya.

Vera sedang menggambar di halaman paling belakang buku tulisnya ketika ibu wali kelas masuk kelas dengan seorang murid yang belum pernah di temuinya di sekolah tua ini. Dia adalah murid baru, namanya Wafa. Pindahan dari ibukota. Vera tidak peduli dan terus melanjutkan gambarannya. Gadis itu baru mendongak ketika Bu Wali Kelas meminta Wafa untuk duduk di sebelah Vera karena tidak ada bangku kosong lain di kelas itu.

Saat Vera hendak menolak, Bu Wali Kelas terburu-buru pergi dan meninggalkan Wafa yang sudah berjalan mendekat ke tempat Vera. Semua terjadi begitu saja. Dan Wafa, cowok ini terus saja mengajak Vera berkenalan walaupun sudah diacuhkan berulangkali oleh gadis itu.

***

Sudah beberapa hari semenjak Vera tidak duduk sendirian di meja paling belakang. Karena ada Wafa sekarang. Vera tidak pernah menjawab apapun pertanyaan yang terlontar dari mulut Wafa.

“Kamu suka gambar ya?” tanya Wafa sia-sia.

“Kalau aku suka nulis cerita. Eh iya, sudah tau belum ada lomba membuat komik se-provinsi lho. Kamu sudah tau?”

Walaupun gambaran Vera bagus dan sudah banyak, tetapi dia sama sekali belum pernah mengikuti perlombaan ataupun memublikasikannya. Karena ia tidak mempunyai keberanian untuk itu.

“Aku ingin sekali ikut, tapi aku tidak bisa gambar. Kamu mau tidak jadi partnerku? Kuperhatikan, gambaranmu cukup unik. Kita pasti bisa menang. Hadiahnya juga lumayan. Mau ya?”

“Tema apa?” untuk pertama kalinya Vera membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan si cerewet ini. Ia agak tertarik karena selama ini ia belum pernah mendapat pengakuan terkait karya-karyanya.

Wafa yang mendengar tanggapan dari Vera lantas tersenyum senang.

“Aku send aja posternya ya? Boleh minta nomor kamu?”

Vera sontak melirik sinis. “Cari aja di grup kelas.”

***

Ketika di rumah, Vera terus saja memikirkan tentang lomba itu. Di satu sisi ia sangat ingin mengikutinya karena belum pernah mendapat penilaian secara resmi tentang karya-karyanya. Di sisi lain, ia cemas jika semakin dekat berteman dengan Wafa, ia akan berakhir seperti seluruh keluarganya.

Ketika sedang menggoreng telur untuk makan malam, ia tiba-tiba mendapat sebuah ide cemerlang. Ia akan mengikuti lomba itu dengan syarat, mereka tidak boleh mengerjakannya secara bersamaan di waktu dan tempat yang selain di sekolah.

Vera akan meminta Wafa untuk mengirimkan naskah ceritanya ke emailnya, dan Vera akan mulai menggambar sesuai dengan naskah yang dikirmkan Wafa. Dan mereka akan diskusi secara online.

Wafa akhirnya setuju dengan syarat tersebut setelah mendapat ancaman kalau tidak mau, Vera tidak akan ikut. Ketika di sekolah pun, Vera benar-benar membatasi komunikasi mereka. Berusaha untuk tidak terlalu jauh berteman dengan Wafa.

***

Suatu ketika, saat pelajaran bahasa indonesia, Wafa tiba tiba memaksa Vera untuk ke perpustakaan bersamanya hari minggu besok. Jelas saja Vera langsung menolak dengan galak.

”Ayolah, Ra. Kita harus riset untuk bab selanjutnya.”

“Kamu sendiri saja kenapa sih?”

“Kamu juga harus ikutlah, kan kita harus diskusikan yang selanjutnya terjadi dan apa yang muncul.”

“Pokoknya aku tidak mau ikut!”

***

Hari minggunya, Wafa sudah berada di perpustakaan. Awalnya dia berniat mengerjakannya sendirian. Tetapi dia mengalami kesulitan dan akhirnya kembali memaksa Vera untuk datang menemuinya sebentar.

Karena terus-terusan dipaksa, Vera akhirnya terpaksa datang dengan satu syarat, tidak lebih dari lima belas menit. Kalau lebih, ia akan memaksa pulang duluan.

Tak sampai lima belas menit ternyata mereka sudah selesai. Vera sudah hendak pulang, dan Wafa juga begitu.

Ketika mereka hendak berpisah, sesuatu terjadi ketika Wafa hendak menyebrang. Dia tertabrak kendaraan yang sedang melaju kencang. Lagi-lagi, semua terjadi begitu cepat. Vera sendiri tidak melihat dan menyadari kendaraan itu. Ia tidak tahu harus berbuat apa selain mematung.

***

Wafa dinyatakan meninggal bahkan sebelum sampai di rumah sakit. Lupakan tentang lomba. Vera sekarang tidak bisa melakukan apapun kecuali menyalahkan diri sendiri. Semua orang terdekatnya selalu mati ketika menjalin kedekatan dengannya. Sekarang dia benar-benar menganggap dirinya adalah pembawa sial yang tidak layak untuk hidup apalagi punya teman. Semua yang dilakukan tidak akan ada gunanya.

Vera saat ini sedang berada di atap sebuah gedung tinggi di kotanya. Dia merasa semuanya akan baik baik saja ketika dia tidak ada di dunia. Saat semuanya sudah tidak berarti, saat ia sudah akan lompat, tiba tiba ada seseorang yang mencekal tangan kanannya. Membuatnya kaget setengah mati. Ia seorang gadis.

“Hal yang sama juga terjadi kepadaku,kata gadis tersebut.

“Apa maksudmu?” tanya Vera setengah berteriak.

Gadis asing itu kembali berkata sembari menangis. “Semua orang di sekitarku mati!”

Vera kembali terkejut mendengar pengakuan itu. Sekarang kemungkinan yang akan terjadi selanjutnya ada dua ; mereka tetap hidup bersama sama. Atau mereka akan mati bersama sama. Apapun yang akan terjadi nanti, Vera tidak peduli. Kalaupun harus mati pun, yang terpenting dia punya teman sekarang.

***

Selesai ditulis tanggal 17 Juni 2020.


Prompt cerita dari Prythalize (wattpad) tapi alur ceritanya kutulis semua sendiri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

a girl looking at art

7 Mei 2023 (Minggu) Halooo :D hari ini aku pergi ke pameran seni di Yogyakarta. Aku pergi sama temenku. Kita berangkat jam 2. Hari ini lumayan mendung, tapi kita nggak kehujanan sih cuma gerimis aja. Kita pergi ke 3 tempat hehehe. Capek banget tapi seneng. Jadi, yang pertama kami ke Bentara Budaya, yang deket Gramedia sama Togamas Kotabaru. Di sana ada pameran yang judulnya “Bumi Sriwedari”. Cantik-cantik lukisannya. Nama senimannya Bapak Herjaka Hs. Beliau punya novel juga. Karyanya banyak sekali. Terus, dari semua yang aku lihat, ada satu yang aku ingat banget. Judulnya “Semoga semua makhluk berbahagia” dari judulnya aja udah cantik, lukisannya juga cantik. Jadi ada 2 makhluk (kalau di gambarnya itu gambar wayang (?) maaf aku nggak terlalu ngerti tentang seni) terus di latar belakangnya banyak bunga warna-warni. Seperti dunia itu cerah sekali rasanya hehehe :D Oh iya, di sana ada postcard sama bookmark juga. Aku sempet tanya sama kakaknya, harganya 30 ribu, dapat 3 postcard sama 2 bo...

The Yellow Envelope (English)

 It's been a year since Ruby first received an anonymous letter in the school locker. Today she received it again. The first letter Ruby received was when she was in 1st grade of high school. At that time she was confused and afraid. Suddenly, in her locker there is a yellow envelope. She brought it home. It turned out that the contents of the birthday greetings were written in beautiful sentences like poetry. The handwriting is neat. Along with the letter, there was a painting of a rose in the moonlight and had the words 'In a moonlight garden, when roses never fade' written on the back. What does it mean? Ruby never found out who sent the letter. All she knows is that she has a secret admirer. Maybe. But if it's true, how cool is that. But to be honest, Ruby was really curious. However, she never told anyone about it. Today Ruby received it again. The envelope is still the same, yellow. Realizing that someone had bothered to deliver it to the locker made Ruby flutter....

HAPPY NEW YEAR

 Selamat tahun baru 2023! (telat tapi yaudah) Ada yang bilang tahun 2022 berjalan cepet banget sampe nggak kerasa. Ada lagi yang bilang kerasa banget saking beratnya. bagiku sendiri biasa aja sih, berjalan dengan baik dan menyenangkan walaupun banyak pressure tapi karena udah sampai sini jadi udah lewat, nggak usah dipikirin. Aku mulai berani nulis di sini tahun 2022, jadi kupikir aku mulai nggak peduli sama pemikiran orang lain di tahun ini dan itu baik. Kadang masih suka overthinking sih tapi nggak lama. Lagian kan nggak ada juga yang peduliin banget eksistensi setiap manusia. Sebenernya pengen juga nulis di medium atau media lain tapi aku masih belum berani :( kapan ya aku berani? Nanti deh, jangan semuanya harus selesai sekarang. Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, tahun 2022 menyenangkan. Aku banyak belajar. Aku belajar buat jadi sedikit lebih berani. Orang-orang mungkin nggak lihat, tapi aku rasain itu. Aku juga belajar untuk nggak perlu memikirkan sesuatu secara berlebih...