Langsung ke konten utama

A Warm Misty Dawn

    “Kak, mau kopi?” tanya seseorang disampingku sambil menyikut lenganku, memecahkan lamunan.

    Aku menoleh sebelum menjawab, “Boleh.”

    Dia tersenyum iseng sebelum tawanya keluar. “Bikin sendiri, dong!” lalu buru-buru berlari menjauhiku yang masih duduk merapatkan jaket di tempat semula. Aku hanya tersenyum, menatapnya geli.

    Malam ini ditemani api unggun, kami sedang mengadakan pendidikan dasar yang rutin diadakan setiap akhir tahun oleh salah satu ekstrakurikuler sekolah yang aku ikuti. Karena aku adalah murid kelas tiga, peranku disini adalah mendampingi calon adik-adikku dan mengawasi mereka. Dan, anak laki-laki menyebalkan yang tadi juga adalah adikku yang tahun lalu kuawasi. Tahun ini, dia disini menemaniku.

    Aku hanya melamun menatap api unggun sambil sesekali menahan dingin yang menusuk tulang ketika kami sedang melakukan evaluasi malam untuk kegiatan yang akan dilakukan besok pagi. Peserta kelas satu saat ini sedang beristirahat di tenda darurat yang mereka dirikan.

    Walaupun menyebalkan, sebenarnya lebih mudah menjadi peserta yang hanya perlu mengikuti perintah panitia daripada menjadi panitia yang harus pusing memikirkan tanggung jawab berlangsungnya kegiatan.

     Lamunanku kembali buyar ketika sebuah cangkir berwarna abu-abu yang terlihat mengepul berhenti di depan wajahku. Aku menatap orang yang membawanya untukku sebelum menerimanya. Anak itu—namanya River.

     “Aku baik, kan?” sahutnya sembari kembali duduk di sampingku. “Ganteng lagi.”

    Aku tidak menjawab dan lebih memilih meminum kopi panas itu. Mungkin evaluasi sebentar lagi selesai dan aku ingin segera tidur.

    “Besok tugasku bangun jam dua, temani ya, Kak?” celetuk River.

    “Besok tugasku bangun siang,” balasku.

    “Ya besok jam dua aku robohkan tenda kakak.”

    Aku menatapnya sambil berpura memasang wajah jengkel. Evaluasi baru saja selesai. Dan ketika sudah bersiap menuju tenda, River menahan lenganku dan berkata, “Kak, dingin.” Aku menatapnya bingung. Lalu segera melemparkan jaket kuningku yang sedari tadi kugenggam. River menerimanya lantas tertawa, dan mengalungkan jaket itu di lehernya.

            ***

     Aku terbangun di pukul dua karena mendengar teriakan River memanggil peserta. Tentu saja tendaku baik-baik saja, tidak roboh seperti ancamannya semalam. Aku menghela napas menatap langit-langit tenda, masih ditemani suara tegas teriakan River yang semakin lama semakin menakutkan.

    Aku menunggu Luna dan Sheza yang tidur disampingku, tetapi tidak ada tanda-tanda dari mereka kalau akan bangun. Jadi, aku memutuskan untuk keluar sendiri. Berdiri di depan tenda setelah sempurna mengenakan sepatu. Mengamati River dan senior yang berhadapan dengan para peserta.

    River menatapku, yang membuatku melangkahkan kaki mendekatinya.

 

 

Note: Ini ditulis tanggal 13 Maret 2021, aku juga nggak tahu kenapa ceritanya gantung di situ wkwkwk

Dan karena aku punya teman dari luar negeri (iya ini flexing) jadi aku dengan senang hati men-translate seluruh tulisanku biar dia bisa baca (iya pake google translate, maaf ya kalo banyak salah)


English Version (LOL)

    "Do you want coffee?" asked someone beside me, breaking my reverie.

    I turned around before answering, "Yes."

    He smiled before his laughter leaked out. "Make it yourself, please!" then hurriedly ran away from me who was still sitting tightly hugging my jacket. I just smiled, looking at him amused.

    Tonight accompanied by a bonfire, we are holding basic education which is routinely held at the end of the year by one of the school extracurriculars. Since I'm a third grader, my role here is to accompany my future younger siblings and supervise them. And, that annoying boy is also my little brother that I watched over last year. And this year, he is here to accompany me.

    I just daydreamed staring at the bonfire while occasionally enduring the bone-chilling cold when we were doing a nightly evaluation for activities to be carried out tomorrow. The first year participants were currently resting in the makeshift tent they had set up.

    Even though it's annoying, it's actually easier to be a participant who only needs to follow the committee's orders than to be a committee member who has to worry about the responsibilities of carrying out activities.

    My reverie was broken again when a gray cup that looked steaming stopped in front of my face. I glanced at the person who brought it for me before accepting it. That boy—his name was River.

    "I'm a good boy, right?" he said as he sat down beside me. "And handsome."

    I didn't answer and prefer to drink the hot coffee. Maybe the evaluation will be over soon and I want to sleep soon.

    "Tomorrow my duty is to wake up at two o'clock, would you accompanied me?" River asked.

    "My duty for tomorrow is to wake up late," I replied.

    "Then, tomorrow at two o'clock I will tear down your tent."

    I looked at him while pretending to put on an irritated face. Evaluation just finished. And when I was getting ready to go to the tent, River held my arm and said, "It's cold." I looked at him confused. Then immediately threw my yellow jacket that I had been holding. River accepted it then laughed, and put the jacket around his neck.

            ***

    I woke up at two o'clock to hear River screaming for the participants. Of course my tent is fine, it didn't broken like River's the last night threat. I sighed staring at the ceiling of the tent, still accompanied by the firm voice of River's scream which was getting more and more scary.

    I waited for Luna and Sheza who were sleeping beside me, but there was no sign of them waking up. So, I decided to go out on my own. Standing in front of the tent after perfectly wearing shoes. Watching River and seniors dealing with the participants.

    River looked at me, which made me step closer to him.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

a girl looking at art

7 Mei 2023 (Minggu) Halooo :D hari ini aku pergi ke pameran seni di Yogyakarta. Aku pergi sama temenku. Kita berangkat jam 2. Hari ini lumayan mendung, tapi kita nggak kehujanan sih cuma gerimis aja. Kita pergi ke 3 tempat hehehe. Capek banget tapi seneng. Jadi, yang pertama kami ke Bentara Budaya, yang deket Gramedia sama Togamas Kotabaru. Di sana ada pameran yang judulnya “Bumi Sriwedari”. Cantik-cantik lukisannya. Nama senimannya Bapak Herjaka Hs. Beliau punya novel juga. Karyanya banyak sekali. Terus, dari semua yang aku lihat, ada satu yang aku ingat banget. Judulnya “Semoga semua makhluk berbahagia” dari judulnya aja udah cantik, lukisannya juga cantik. Jadi ada 2 makhluk (kalau di gambarnya itu gambar wayang (?) maaf aku nggak terlalu ngerti tentang seni) terus di latar belakangnya banyak bunga warna-warni. Seperti dunia itu cerah sekali rasanya hehehe :D Oh iya, di sana ada postcard sama bookmark juga. Aku sempet tanya sama kakaknya, harganya 30 ribu, dapat 3 postcard sama 2 bo...

The Yellow Envelope (English)

 It's been a year since Ruby first received an anonymous letter in the school locker. Today she received it again. The first letter Ruby received was when she was in 1st grade of high school. At that time she was confused and afraid. Suddenly, in her locker there is a yellow envelope. She brought it home. It turned out that the contents of the birthday greetings were written in beautiful sentences like poetry. The handwriting is neat. Along with the letter, there was a painting of a rose in the moonlight and had the words 'In a moonlight garden, when roses never fade' written on the back. What does it mean? Ruby never found out who sent the letter. All she knows is that she has a secret admirer. Maybe. But if it's true, how cool is that. But to be honest, Ruby was really curious. However, she never told anyone about it. Today Ruby received it again. The envelope is still the same, yellow. Realizing that someone had bothered to deliver it to the locker made Ruby flutter....

HAPPY NEW YEAR

 Selamat tahun baru 2023! (telat tapi yaudah) Ada yang bilang tahun 2022 berjalan cepet banget sampe nggak kerasa. Ada lagi yang bilang kerasa banget saking beratnya. bagiku sendiri biasa aja sih, berjalan dengan baik dan menyenangkan walaupun banyak pressure tapi karena udah sampai sini jadi udah lewat, nggak usah dipikirin. Aku mulai berani nulis di sini tahun 2022, jadi kupikir aku mulai nggak peduli sama pemikiran orang lain di tahun ini dan itu baik. Kadang masih suka overthinking sih tapi nggak lama. Lagian kan nggak ada juga yang peduliin banget eksistensi setiap manusia. Sebenernya pengen juga nulis di medium atau media lain tapi aku masih belum berani :( kapan ya aku berani? Nanti deh, jangan semuanya harus selesai sekarang. Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, tahun 2022 menyenangkan. Aku banyak belajar. Aku belajar buat jadi sedikit lebih berani. Orang-orang mungkin nggak lihat, tapi aku rasain itu. Aku juga belajar untuk nggak perlu memikirkan sesuatu secara berlebih...